πŸ“… Selasa, 02 Juni 2026

Artikel

Mengurai Benang Suci: Sejarah Panjang Stola dan Makna Spiritualnya dalam Gereja Toraja

18 Mei 2026   |   59 views   |   FRITZ V. WONGKAR

PUSTAKA PPGT -- Di banyak gereja beraliran liturgis, ada satu simbol yang hampir selalu hadir dalam setiap ibadah: sehelai kain panjang yang dikenakan di leher para pelayan gereja. Kain itu disebut stola. Bagi sebagian jemaat, ia mungkin tampak hanya sebagai pelengkap pakaian ibadah. Namun sesungguhnya, stola adalah simbol rohani yang menyimpan sejarah panjang, makna teologis, sekaligus pesan pelayanan yang mendalam.

Dalam tradisi gereja-gereja dunia mulai dari Katolik, Anglikan, Ortodoks, hingga berbagai denominasi Protestan stola telah lama menjadi tanda pelayanan dan tanggung jawab rohani. Di Gereja Toraja, simbol ini memperoleh makna yang lebih kontekstual: bukan sekadar tanda jabatan gerejawi, melainkan lambang kesediaan seseorang untuk mengangkat pelayanan sebagai hamba Tuhan di tengah jemaat.

Dari Orarium Romawi Menjadi Simbol Pelayanan

Sejarah stola berakar dari dunia Romawi kuno. Pada masa itu dikenal kain bernama orarium, sejenis kain lap atau syal kecil yang digunakan masyarakat untuk menyeka keringat ataupun memberi tanda dalam acara-acara umum.

Ketika Kekristenan mulai berkembang dan diakui di Kekaisaran Romawi pada abad keempat, gereja kemudian mengadopsi berbagai unsur budaya ke dalam liturginya, termasuk orarium. Dari sinilah lahir stola.

Dalam perkembangan teologi gereja, kain itu kemudian dihubungkan dengan handuk yang digunakan Tuhan Yesus ketika membasuh kaki murid-murid-Nya pada Perjamuan Terakhir. Dari tindakan Yesus itu, stola dimaknai sebagai simbol pelayanan, kerendahan hati, dan pengabdian.

Tradisi gereja kemudian menyebutnya sebagai "kuk Kristus", merujuk pada panggilan Yesus agar setiap pengikut-Nya memikul tanggung jawab pelayanan dengan kesetiaan dan kasih.

Karena itulah, di banyak gereja seperti Katolik, Anglikan, dan sejumlah denominasi Protestan, stola umumnya dikenakan oleh para pejabat gereja atau pelayan tertahbis sebagai lambang otoritas rohani.

Makna Stola dalam Gereja Toraja

Berbeda dengan beberapa tradisi gereja lain yang membatasi penggunaan stola hanya kepada pejabat gerejawi tertentu, Gereja Toraja memahami stola sebagai simbol kesediaan untuk melayani dalam liturgi.

Di Gereja Toraja, stola tidak hanya dikenakan oleh Pelayan Firman, tetapi juga dapat digunakan oleh mereka yang mengambil bagian khusus dalam ibadah, seperti lektor, pemandu liturgi, pemusik gereja, procantor, maupun cantoria. Pemahaman ini lahir dari keyakinan bahwa setiap pelayanan dalam ibadah adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan.

Stola menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengangkat tugas pelayanan, bukan mencari kehormatan.

Dalam praktiknya, Gereja Toraja bahkan membedakan bentuk stola berdasarkan fungsi pelayanannya. Stola dengan pundak lebar biasanya digunakan oleh Pelayan Firman dan lektor. Bentuk ini melambangkan beratnya tanggung jawab pemberitaan Firman Tuhan yang harus dijalankan dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kelapangan hati.

Sementara itu, stola dengan pundak sempit digunakan oleh pemandu liturgi, pemandu nyanyian, pemusik, dan pelayan lainnya yang turut mengambil bagian dalam ibadah.

Ada pula tradisi pemasangan stola sebelum ibadah dimulai. Di konsistori, majelis gereja memasangkan stola kepada Pelayan Firman sebagai simbol penyerahan tugas pelayanan. Momen itu bukan sekadar ritual, melainkan peneguhan spiritual bahwa pelayanan gerejawi adalah amanah yang dipikul bersama.

Bahasa Rohani dalam Warna-Warna Stola

Seperti gereja-gereja liturgis pada umumnya, Gereja Toraja juga menggunakan warna stola sebagai bagian dari kalender gerejawi. Setiap warna menyampaikan pesan spiritual tertentu kepada jemaat.

Putih: Simbol Kesucian dan Kehidupan Baru

Warna putih melambangkan kemurnian, kesucian, terang, dan kebenaran Allah. Dalam Gereja Toraja, stola putih digunakan pada Liturgi Kamis Putih, Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Minggu-minggu Trinitas, dan Kristus Raja.

Putih menjadi lambang kemenangan terang atas kegelapan serta kehidupan baru yang dianugerahkan Tuhan kepada umat-Nya.

Kuning: Kemuliaan dan Sukacita

Berbeda dari banyak gereja Barat yang menggunakan warna emas atau putih untuk masa sukacita, Gereja Toraja menggunakan stola kuning sebagai simbol kemuliaan dan keabadian.

Stola kuning dipakai pada masa Paskah hingga menjelang Pentakosta, masa Adven dan Natal, serta berbagai ibadah syukur. Warna ini menggambarkan sukacita iman dan pengharapan akan karya keselamatan Tuhan.

Merah: Api Pengorbanan dan Semangat Roh Kudus

Merah melambangkan darah, keberanian, pengorbanan, dan semangat kesaksian iman. Warna ini mengingatkan jemaat pada pengorbanan Kristus di kayu salib dan semangat gereja mula-mula yang dipenuhi Roh Kudus.

Dalam Gereja Toraja, stola merah digunakan pada Minggu Palma, Jumat Agung, serta masa Pentakosta selama empat minggu berturut-turut.

Ungu: Pertobatan dan Kedalaman Batin

Ungu adalah warna perenungan dan pertobatan. Warna ini digunakan pada masa Prapaskah sebagai ajakan bagi jemaat untuk mawas diri, memeriksa hati, dan mempersiapkan diri menyambut Paskah.

Selain itu, stola ungu juga digunakan dalam konteks kedukaan dan pemakaman sebagai simbol keheningan, penghiburan, dan pengharapan di tengah duka.

Simbol Pelayanan yang Hidup

Stola pada akhirnya bukan sekadar kain liturgis yang dikenakan saat ibadah berlangsung. Ia adalah simbol spiritual yang hidup di tengah gereja.

Di Gereja Toraja, stola tidak hanya berbicara tentang jabatan, tetapi tentang kesediaan melayani. Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang berdiri di altar baik memberitakan Firman, memimpin nyanyian, memainkan musik, maupun membacakan liturgi sedang mengambil bagian dalam pelayanan kudus.

Dari sejarahnya di dunia Romawi hingga penggunaannya di gereja-gereja Toraja hari ini, stola tetap membawa pesan yang sama: bahwa panggilan tertinggi dalam gereja bukanlah untuk dihormati, melainkan untuk melayani dengan kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Tuhan. (berbagai sumber)

 


Tag: Stola Gereja Toraja Pelayanan Gereja

πŸ“Œ Artikel Terkait