📅 Jumat, 11 September 2026

Berita

Gereja Toraja Didorong Adaptif Hadapi Gen-Z dan Perkembangan AI

24 Ags 2026   |   233 views   |   FRITZ V. WONGKAR

PUSTAKA PPGT -- Perkembangan teknologi dan kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi Gereja Toraja dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Small Group Discussion (SGD) yang digagas Tim PUSTAKA PPGT dengan tema “Menatap dan Menata Gereja Toraja 5 Tahun ke Depan”, Jumat malam, 21 Agustus 2026.

Diskusi yang dipandu Gusti Petra Arruan dari Klasis Makassar Tengah itu menghadirkan Pdt Alfred Anggui dan Pdt Yusuf Paliling sebagai narasumber. Keduanya menyoroti pentingnya gereja tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi hadir untuk memberikan arah kepada generasi muda.

Pdt Yusuf Paliling mengatakan literasi digital harus menjadi perhatian serius Gereja Toraja, khususnya dalam pembinaan PPGT. Gereja, kata dia, tidak boleh meninggalkan generasi muda sendirian menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital.

"Gereja perlu mendampingi. Pengurus dan majelis harus hadir untuk memberikan pemahaman kepada pemuda bagaimana menggunakan media sosial secara cerdas," kata Pdt Yusuf dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, ruang digital tidak seharusnya hanya menjadi tempat generasi muda mengonsumsi informasi. Media sosial justru dapat diubah menjadi ruang pelayanan untuk menyampaikan nilai-nilai Kristiani dan membangun kesaksian gereja.

"Dunia digital itu harus kita jadikan tempat untuk melayani. Karena itu, kita perlu gerakan ‘Cerdas Bermedsos’ agar pemuda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi mampu memberikan dampak melalui ruang digital," ujarnya.

Ia juga menilai pendekatan gereja terhadap generasi Z perlu berubah. Generasi ini, menurut Yusuf, membutuhkan ruang untuk berekspresi dan kepercayaan untuk mengambil peran, bukan dibatasi oleh pola birokrasi yang terlalu rumit.

"Gen-Z itu tidak suka birokrasi yang terlalu ribet. Mereka butuh diberi ruang dan dipercaya," katanya.

Sementara itu, Pdt Alfred Anggui mengatakan perkembangan AI tidak semestinya langsung dipandang sebagai ancaman. Teknologi merupakan sesuatu yang dapat memberikan manfaat besar, tetapi penggunaannya harus disertai pendidikan dan tanggung jawab.

"AI itu baik, AI itu anugerah Tuhan. Tetapi persoalannya ada di tangan siapa AI itu digunakan," kata Alfred.

Karena itu, ia menilai pendidikan menjadi kunci agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak sekaligus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis. Gereja juga perlu mulai menyiapkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk membuka ruang kolaborasi dengan lembaga pendidikan lain.

Dalam diskusi tersebut muncul pula gagasan membentuk komunitas AI di lingkungan PPGT. Komunitas ini diharapkan menjadi ruang bagi pemuda untuk mempelajari perkembangan AI, mendiskusikan potensinya dan mencari bentuk pemanfaatan teknologi untuk pelayanan maupun kehidupan masyarakat Toraja.

Alfred juga mendorong PPGT berani memproduksi konten yang mendidik dan menyuarakan nilai-nilai Kristiani di media sosial. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton perkembangan digital, tetapi harus mampu mengambil bagian dalam membentuk ruang digital yang sehat.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membawa tantangan terhadap budaya literasi dan relasi sosial generasi muda. Kemudahan memperoleh informasi secara instan melalui AI dinilai tidak boleh membuat pemuda kehilangan kebiasaan membaca, berpikir kritis dan membangun relasi secara langsung.

Karena itu, pendampingan keluarga dan gereja dinilai tetap menjadi bagian penting. Gereja Toraja ditantang tidak hanya mengejar kemampuan generasi muda dalam menguasai teknologi, tetapi juga memastikan karakter, integritas dan spiritualitas mereka tetap menjadi fondasi dalam menggunakan AI dan media sosial.

 


Tag: Perkembangan AI Pdt Alfred Anggui Pdt Yusuf Paliling Gen-Z PPGT

📌 Artikel Terkait