Artikel

Antara Bilik Suara dan Panggilan Iman: Catatan Pulang Seorang Jurnalis

17 Feb 2026   |   59 views   |   FRITZ V. WONGKAR

MALILI -- Ruang redaksi biasanya adalah tempat yang dingin. Di depan monitor, kami terbiasa mereduksi kedaulatan rakyat menjadi sekadar grafik elektabilitas yang naik-turun atau lobi-lobi transaksional di hotel berbintang. Namun, setelah menempuh perjalanan panjang yang menguras batin, saya menyadari bahwa politik bukan sekadar angka; ia adalah ujian integritas yang paling nyata di hadapan Tuhan dan sesama.

Tiga tahun lalu, saya memutuskan untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Saya menanggalkan kartu pers, mundur dari organisasi profesi, dan melepas identitas jurnalis yang telah saya sandang selama 14 tahun saat itu. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik dan prinsip independensi yang mengharuskan jarak tegas antara pembawa berita dan aktor politik.

Namun, di dalam pusaran tim pemenangan Pileg dan Pilkada, saya justru diperlihatkan pada realitas yang mengerikan. Dengan mata telanjang, saya melihat betapa "murahnya" harga sebuah suara. Lembaran materi mampu meluluhkan ambisi suci demokrasi dalam sekejap. Politik yang seharusnya menjadi alat pengabdian, berubah menjadi ajang pamer gengsi yang destruktif memutus tali kekeluargaan dan meninggalkan luka "baper" yang tak kunjung sembuh meski pemenang sudah dilantik.

Sebagai seorang jurnalis yang juga seorang pemuda gereja, selama setahun menggunakan kacamata politik itu, hati saya terusik. Saya diingatkan pada prinsip dasar "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?" Atau dalam konteks ini, apa gunanya kemenangan politik jika kita kehilangan integritas dan takut akan Tuhan?

Di tengah trauma politik dan apatisme yang akut, saya melihat secercah harapan. Arah angin mulai berubah. Bukan dari panggung orasi yang megah, melainkan dari meja-meja diskusi kecil komunitas anak muda.

Mereka adalah laboratorium kewarganegaraan yang baru. Alih-alih terjebak dalam fanatisme identitas yang dangkal, anak-anak muda ini memilih menjadi katalisator literasi. Mereka membedah rekam jejak, melawan hoaks di layar ponsel, dan bertindak sebagai "auditor independen" di tingkat penyelenggara paling bawah.

Yang paling menggetarkan hati saya adalah keberanian mereka membangun tembok kokoh melawan politik uang. Bagi mereka dan kini bagi saya menerima suap demi suara adalah pengkhianatan terhadap masa depan bangsa dan pelanggaran moral yang berat di hadapan Sang Pencipta.

Saya memaknai tugas jurnalis seperti penjaga menara pengawal dalam Kitab Suci berdiri di tempat yang tinggi untuk melihat lebih jauh, lebih jernih, dan lebih waspada. Seorang penjaga tidak boleh lengah. Ia harus peka terhadap tanda-tanda bahaya, bahkan sebelum orang lain menyadarinya.

Demikian pula jurnalis. Kita dipanggil untuk melihat apa yang tidak dilihat banyak orang, mendengar suara yang terpinggirkan, dan menyuarakan peringatan ketika ada ancaman terhadap keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan. Diam dalam situasi ketidakadilan bukanlah netralitas, melainkan kegagalan menjalankan panggilan.

Jika saya memilih bungkam karena rasa sungkan, tekanan kekuasaan, atau kepentingan pribadi, maka saya telah mengkhianati mandat moral dan spiritual profesi ini. Sebab jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi tanggung jawab nurani.

Menjaga independensi adalah bentuk kesetiaan pada panggilan tersebut. Dengan independensi, saya menjaga kemurnian suara, memastikan bahwa kebenaran tidak diperdagangkan dan keadilan tidak ditukar dengan kenyamanan. Di situlah kekudusan panggilan ini dirawat—dalam keberanian untuk tetap berdiri dan bersuara.

Kembali ke Rumah: Integritas sebagai Harga Mati

Kini, saya telah kembali ke rumah saya yang sesungguhnya "Dunia Jurnalistik".

Perjalanan ke "sisi sebelah" tidak membuat saya kehilangan arah, melainkan justru memperkuat komitmen saya. Saya kembali dengan pemahaman yang lebih dalam bahwa independensi bukan sekadar aturan tertulis di Dewan Pers, melainkan sebuah bentuk kesaksian iman.

Sebagai anak Tuhan, saya menyadari bahwa integritas jurnalisme dan ketakutan akan Tuhan adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya menuntut kejujuran, keberanian untuk menyuarakan kebenaran, dan keteguhan untuk tidak tergoda oleh materi yang fana.

Tugas saya sekarang bukan lagi sekadar memotret kemenangan, tetapi mengawal narasi perubahan yang bermartabat. Kita harus memastikan bahwa setelah pesta demokrasi usai, kerukunan warga tetap utuh. Karena pada akhirnya, politik akan berlalu, namun tanggung jawab kita kepada Tuhan dan sejarah akan tetap tinggal. _(oleh: F/88)_

 


Tag: Jurnalis Panggilan Iman Pemuda Gereja

📌 Artikel Terkait